Minggu, 21 Februari 2010

Yadnya Kasada di Puncak Bromo (2)


Yadnya Kasada di Puncak Bromo (2)

Dukun Suku Tengger
Dalam sebuah upacara Yadnya, prosesi perayaan suku tengger terbagi atas 4 bagian utama yaitu; pembacaan sejarah Kasada, Puja Stuti dukun Pandhita, Mulunen, dan Upacara Penutup atau oleh masyarakat Tengger biasa disebut sebagai Mekakat. Dari semua bagian upacara tersebut, prosesi Mulunen adalah yang paling menarik karena prosesi ini hanya ada di setiap perayaan Kasada saja. Mulunen sendiri adalah sebuah upacara pelantikan bagi dukun-dukun baru. Seseorang bisa diangkat /dikukuhkan menjadi seorang dukun apabila ia dapat merapalkan mantra pulun dengan baik. Setiap calon dukun baru akan diberikan kesempatan untuk merapalkan mantra ini sebanyak tiga kali. Pada saat acara Mulunen dimulai, para dukun baru yang akan dilantik akan diarak menuju pendapa utama di pelataran Pura Luhur Poten sebagai tempat ujian bagi sang dukun. Setelah sang dukun dinyatakan lulus dan telah mendapatkan pengukuhan dari dukun-dukun lainnya, sang dukun baru akan mendapatkan tugas pertamanya untuk Ngloka Pala Sraya atau sebagai bertugas sebagai pengajar agama Hindu bagi masyarakat lainnya. Sebenarnya dalam tradisi masyarakat Tengger, mereka mengenal mantra-mantra doa sebanyak 71 bab dan 165 lanjaran mantra dengan masing-masing mantra terdiri atas 4 bait. Bagi setiap dukun baru yang akan dilantik sebenarnya tidak hanya harus menguasai mantra pulun saja. Tapi setidaknya dia harus menghafal sedikitnya 50 persen dari total mantra yang biasa dipakai dan selebihnya bisa dihafalkan kemudian. Selain itu, pemahaman akan sejarah dan tradisi suku Tengger juga menjadi penilaian tersendiri dalam pengukuhan seorang dukun baru. Kewajiban lainnya yang harus dipenuhi bagi seorang dukun adalah dengan penguasaan kalender Tengger. Penguasaan akan kalender masyarakat Tengger diperlukan karena semua kegiatan yang terdapat dalam masyarakat Tengger harus berjalan sesuai dengan kalender tersebut.
Susunan masyarakat Tengger sebenarnya terbagi atas dua lapisan. Lapisan yang pertama adalah bagi kalangan pengajar atau dukun dan yang kedua adalah lapisan masyarakat biasa. Dalam lapisan yang pertama yaitu kalangan dukun, masih dibagi lagi menjadi dua bagian; dukun gedhe dan dukun-dukun cilik. Pengukuhan seorang dukun gedhe sendiri hanya bisa dilakukan melalui prosesi upacara di bulan kasada saja. Sedangkan bagi dukun kecil tidak melalui sebuah upacara. Dukun kecil menjadi sebutan bagi seseorang dalam masyarakat tersebut dikerenakan orang tersebut memiliki kelebihan dalam bidang tertentu seperti: dapat menyembuhkan orang lain / memiliki ilu ke-tabib-an. Adapun tugas seorang dukun gedhe atau dukun Panditha adalah untuk menjaga kesucian diri sendiri, menentukan hari baik untuk semua upacara keagamaan, melaksanakan suatu upacara ritual, serta pemimpin dan pembimbing bagi umat. Dalam hal ini, seorang dukun Panditha memiliki keanggotaan dalam struktur keorganisasian lembaga PHDI. Akan tetapi seorang dukun panditha dalam keorganisasian tidaklah mendapat gaji. Satu-satunya sumber penghasilan dari seorang dukun panditha adalah upah setelah memimpin suatu upacara keagamaan.

Unsur Agama
Sebetulnya sampai sekarang masih terjadi pertentangan akan jenis kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Tengger. Dalam prakteknya, masyarakat Tengger memang melakukan ibadah perayaan hampir sama dengan masyrakat Hindu pada umumnya. Tapi apabila dilihat lagi secara lebih seksama, masyarakat Tengger tidak sepenuhnya memiliki ciri yang sama. Dalam ritual keagamaan masyarakat Tengger, mereka tidak mengenal / merayakan upacara-upacara seperti Pagerwesi, Galungan, Saraswati seperti yang dilakukan orang Hindu pada umumnya. Mereka juga tidak melaksanakan upacara Waisak dan upacara-upacara Budha yang lainya.
Masyarakat Tengger memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda dengan agama-agama yang diakui di negara kita. Dalam perjalanannya, masyarakat Tengger biasa menyebut agama dalam dirinya sebagai Budho Tengger, sebuah ritual agama yang berbeda dengan tradisi Budha maupun Hindu. Akan tetapi, Budho Tengger bagaimanapun juga adalah agama orang Tengger dan merupakan ajaran tersendiri yang berbeda dengan ajaran Hindu dan Budha. Kepercayaan itu adalah hasil sebuah kebudayaan yang telah diturunkan selama berabad-abad. Tidak adanya pengakuan dari pemerintah mengenai aliran kepercayaan ini menjadikan perkembangan budaya masyarakat Tengger semakin lama semakin terancam. Setidaknya ada langkah-langkah tersendiri dari pemerintah dalam penanganan hasil budaya masyarakat Tengger dan bukannya terus mencoba memberantas habis tradisi lokal yang ada di Bromo ini.

0 komentar:

Posting Komentar