Minggu, 21 Februari 2010

Yadnya Kasada di Puncak Bromo (1)

Yadnya Kasada di Puncak Bromo (1)

Seindah purnama yang bersinar ditengah malam,
Selembut belaian sinarnya yang menembus kelam,
Seiring nyanyian dewa-dewi diatas awan,
Kekhusyukan doa terdengar ditengah temaram.

Sepotong syair serta sinaran purnama diatas puncak Bromo seakan menjadi pertanda dimulainya prosesi suci masyarakat Tengger di bulan Kasada. Sebuah prosesi yang digelar di padang pasir luas di puncak Bromo dengan suhu dibawah 5 derajat celcius.
Dalam puncak perayaan Yadnya Kasada, perayaan akan digelar di pelataran Pura Luhur Poten, sebuah pura yang terletak di tengah-tengah laut pasir Tengger. Akan tetapi sebelum perayaan Yadnya dimulai, penduduk suku Tengger disibukkan dengan banyak hal. Sebagai persiapan prosesi ritual tersebut masyarakat suku Tengger di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan melaksanakan kerja bhakti secara gugur gunung (bersama-sama) membersihkan jalan-jalan desa. Jalan desa yang dibersihkan meliputi jalan-jalan yang akan dilewati selama prosesi Yadnya Kasada berlangsung, yakni mulai dari Desa Wonokitri hingga puncak Gunung Bromo dengan rute sepanjang 14 km.Acara gugur gunung ini sendiri diperkirakan bisa memakan waktu sampai dengan 2 hari sebagai sebuah persiapan awal yang masyarakat Tengger lakukan untuk menyempurnakan prosesi Yadnya. Beberapa hari sebelum upacara puncak bulan Kasada, masyarakat Tengger juga melaksanakan “Mendak Tirta”. Mendak Tirta sendiri adalah prosesi pengambilan air suci dari sumber-sumber air di gugusan Gunung Bromo yang nantinya akan digunakan sebagai kelengkapan dalam acara Yadnya Kasada.
Beberapa upacara pendahuluan juga sebelumnya telah dilakukan sebelum melaksanakan upacara Yadnya Kasada. Pada masa itu, masyarakat suku Tengger akan melaksanakan sejumlah upacara lain diantaranaya; upacara "mepek" yang akan dilaksanakan pada malam sebelum malam Kasada. Upacara "mepek" merupakan upacara permohonan ijin kepada yang Mahakuasa Hyang Widi Wasa. Pada hari berikutnya, warga suku Tengger akan melaksanakan upacara Tayuban di Pakis Bincil di bibir kaldera Gunung Bromo untuk melarungkan sesaji ke dalam kawah Gunung Bromo sebagai peringatan akan adanya sebuah legenda yang menjadi cikal bakal terbentuknya masyarakat Tengger.
Pada akhirnya tiba saatnya masyarakat Tengger melaksanakan upacara yang utama yaitu Yadnya Kasada. Dalam upacara puncak ini, lebih dari 40 dukun yang mewakili setiap desa-desa di seputaran bromo berkumpul untuk merayakannya. Dengan berselempang selendang kuning serta kombinasi celana hitam dengan kain batik, mereka akan memimpin upacara yang konon sangat akbar di wilayah Bromo. Para dukun tersebut tergabung dalam perkumpulan dukun-dukun wilayang Tengger atau biasa disebut sebagai Paruman Dukun Tengger.

0 komentar:

Posting Komentar